Semi Cinta

Mengigant ibu adalah mengenang Cinta yang telah ditunaikan. Bahkan sampai mati pun kita tak mampu membalas cintanya. Mengenang Ibu seperti mengamati musim semi kehidupan, masa pertumbuhan kita. Masa dimana jiwa kita merasakan aroma harum dari cinta Ibu menuju Taman Kebahagiaan.



Ibu, Ibu, Ibu... Dari payudara Ibu, tubuh kita berkembang, sehingga kita tak mengalami keterpenjaraan dalam hidup. Rahimnya adalah busur yang menjadikan kita bagai anak panah yang terlepas menuju kebebasan, dengan cara terus berkembang dan terus berkembang. Dibalik busur, Dia yang Maha Pembidik menganugerahi kita cermin yang bening. Cermin yang bernama kalbu itu berfungsi untuk memantulkan Cahaya-Nya, lalu ditebarkan sebagai ke penjuru persada.

Senyum seorang Ibu mengisyaratkan pesan. "Jangan cari barang yang usang. Cari tahu demi kebaikan dirimu. Jangan mengejar bayang-bayang. Peluklah misteri cinta. Jangan sekedar mengagumi sebuah kendi, minum dan reguklah isinya. Gunakan waktumu dengan bijak sebelum engkau dihitung sebagai orang yang bangkrut. Jangan tunggu esok hari, intinya adalah sekarang. Menyelamlah kedalam Sungai Transformasi dan berenanglah menuju Samudra Cinta."

Masih dalam senyum Ibu. Senyumannya terbaca sebagai isyarat kata-kata. "Jika engkau menghadapi kesedian dalam hidup, janganlah berpaling. Ratapilah dengan kepedihanmu bagai lengking seruling, maka dengan begitu akan membuatmu tulus. Jika engkau meras, seolah engkau diterlantarkan oleh-Nya, tetaplah pada pilihanmu. Sebab sebenarnya tidak. Sebab Kekasih sebenarnya sedang menantimu untuk tenggelam dalam lautan ketiadaan diri-Nya.

Ada satu hal di dunia ini yang tak pernah boleh dilupakan. Jika engkau tetap mengigat hal satu ini tetapi melupakan hal lain, engkau tak akan menyesal selamanya. Namun, jika engkau melupakan hal yang satu ini dan mengigat hal yang lain, maka engkau belum mengerjakan apa pun dalam hidup ini.

Bagai seorang raja telah mengutusmu ke sebuah negeri asing untik melakukan tugas khusus. Jika engkau menjalankan seratus tugas lainnya tapi tidak melakukan tugas khusus itu, maka engkau belum menyelesaikan atau mengerjakan apa-apa. Sebab, kehadiranmu hidup di dunia ini hanya untuk suatu tugas khusus ini.

Tugas khusus ini yang dinamakan dengan perjalanan spiritual. Di dalamnya engkau akan memasuki misteri kehidupan dan kematian, menyatu dengan Tuhan. Tapi siapakah Tuhan? Dia adalah Kesatuan dari segala sesuatu yang ada. Dia adalah yang nyata dan yang misteri. Dia-lah Allah. Allah adalah kekuatan Cinta di dalam kalbumu...

Kawan-kawan, carilah abstraksi senyum Ibumu yang indah itu. Mengenang senyumnya maka akan mengenal Cinta. Mengenang senyumnya adalah menyeka derita. Mengenang senyumnya sama dengan mengembangkan cita. Dengan mengenang senyumnya, maka bersemilah taman di dalam kalbu kita, semi Cinta.


Penulis: K.H. Amin Maulana Budi Harjono

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Semi Cinta"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...