Imajinasi, Cinta dan Tuhan


Kita bagai dipisah samudera itu. Engkau di seberang dan aku menebakmu, rupamu, derajatmu, dan tabiatmu atas Tuhan-mu. Aku ini seperti dukun, mantra-mantra hidup selalu membasahi bibirku.

Diantara mantra itu kuselipkan kebaikanmu. Sering juga aku menggoda sang Tuan, agar ragaku mampu menjumpaimu.

Engkau adalah bidadari yang melengkapiku, engkau jaga kehormatanmu, engkau sujud kepada Tuhan-mu. Di seberang sana, engkau sedang mengabdi untuk dunia dan akhiratmu. Dan engkau juga sedang menggoda Tuhan-mu, untukku.

Ini tentang kisahmu dan kisahku. Tat kala imajinasiku diredhoi-Nya. Kita sama-sama membangun cinta. Merancang dan sama-sama memasang pondasi, dinding dan atap untuk rumah kita.

Hingga badaipun segan menyentuhnya, karena cinta kita cukup dekat dengan Tuhan-nya. Dan aku paham tentang jalan hidup, terkadang kita harus berbelok-belok untuk tetap pada jalur.

Tatkala engkau bersedih, diatas pundakku kau meracau, dan kita mengadu kepada Tuhan. Tatkala aku bersedih, engkau bercerita tentang kehebatan Tuhan, untukku. Tatkala kita gembira, senyummu adalah senyumku, dan dimata kita juga ada senyum Tuhan.


Penulis: Zulhelmi Amran
Dikutip dari: Kampung Lukun

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Imajinasi, Cinta dan Tuhan"

Post a Comment

Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...