Jawaban Al-Qur'an Tentang Kelautan


Kelautan adalah hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan di wilayah laut yang meliputi permukaan laut, kolom air, dasar laut dan tanah di bawahnya, landas kontinen termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, pesisir, pantai, pulau kecil, serta ruang udara diatasnya.

Kelautan yang di dalamnya terdapat sector perikanan (fishery) merupakan bagian dari sector ekonomi yang bertumpu pada hasil laut. Di Indonesia menganut asas Zona Ekonomi Eksklusif yaitu suatu upaya untuk mengatur pemanfaatan sumber daya kelautan yang dicetuskan dalam pertengahan dasawarsa 70-an, yang kemudian dikenal sebagai hak hukum nasional sampai 200 mil laut dari garis pantai.

Produk perikanan Indonesia yang dimanfaatkan sebagai komoditi ekspor terdiri atas beberapa jenis, yaitu perikanan darat dan periklanan laut. Hasil periklanan darat berasal dari empang dan tambang. Sedangkan hasil dari perikanan laut meliputi udang laut, tuna, fillet kakap dan lainnya. Dan hasil laut selain perikanan adalah perhiasan seperti mutiara dan marjan.

Al-Qur’an secara jelas memberikan peluang kepada manusia untuk menikmati kekayaan laut. Ayat yang menjelaskan laut dalam arti kekayaan alam sebagai sumber daya ekonomi telah dijelaskan dalam QS. An-Nahl:14, QS. Al-Isra:66, dan QS. Fatir:12.


QS. An-Nahl [16] : 14

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.

Dalam ayat ini, Allah SWT menyajikan dalil-dalil tauhid dan kebersifatan Zat-Nya dengan sifat-sifat yang agung dan mulia, dengan susunan bahasa indah yang memadukan dalalah dan buatan atas yang membuat dalalah dan dalalah nikmat atas yang memberi nikmat. Kemudian Allah mengingatkan bahwa masing-masing dari semua ini cukup memalingkan orang-orang musyrik dari kemusyrikan yang sedang mereka lakukan.

Dari ayat-ayat yang dipaparkan di atas kita melihat bahwa, Allah telah memberikan ayat-ayat yang cukup jelas tentang laut, dan kemanfaatanya. Dimulai dari mengingatkan akan kapal-kapal yang berlayar di lautan dengan membawa barang-barang dagangan sebagai aktivitas perdagangan mereka. Semua itu adalah satu di antara tanda kebesaran-Nya. 

Kemudian Allah jualah yang menundukkan laut agar manusia dapat mengambil segala yang di dalamnya dengan cara langsung atau up date. Allahlah yang telah menundukkan kapal dari segala goncangan ombak dan badai serta gangguan lain agar manusia dapat mengambil sebagian dari karunia-Nya.

Kebesaran-Nya menjadikan laut asin dan tawar untuk kehidupan manusia, agar manusia dapat memakan daging yang segar, mengambil perbendaharaan yang ada di dalam laut berupa; perhiasan dan barang tambang. Setiap kali Allah membutakan mata mereka kepada sebagian dalil yang mereka lihat dan saksikan.

Allah mencela mereka karena apa yang mereka katakana dan perbuat, Allah menjelaskan kepada mereka tentang kekufuran mereka terhadap nikmat pemeliharaan dan pemberian petunjuk. Untuk membuktikan wujud-Nya, Allah mengemukakan hujjah berupa penciptaan planet-planet, ikhwal manusia, ikhwal hewan, ikhwal tumbuh-tumbuhan, kemudian ikhwal keempat unsur sebagai penutup firman-Nya.


QS. Al Isra [17] : 66

رَبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya:
Tuhan-mu adalah yang melayarkan kapal-Kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu.

Manusia melihat bukti-bukti kekuasaan Allah di daratan dan lautan bahwa Allah-lah yang memperlayarkan bahtera untuknya. Sehingga ia dapat memindahkan rezeki dan makanan-makanannya ke tempat yang jauh. Namun demikian, ternyata manusia kufur terhadap nikmat Allah. Apabila ia ditimpa bahaya, dia berdoa pada TuhanNya, tetapi bila bahaya itu telah aman, maka ia berpaling daripadaNya, lalu menyembah pada patung-patung dan berhala-berhala. 

Apakah manusia itu merasa aman tak ditelan oleh bumi, atau tak dikirimkan padanya angin keras yang membawa batu-batu dari darat, atau angina topan di laut yang menenggelamkannya karena kekafirannya. Dan apakah manusia telah lupa bahwa ia telah dilebihkan oleh Allah atas semua makhlukNya yang lain,dan telah diluakan baginya rezekimu. Kenakah tidak menyembah kepada Allah saja dan tunduk kepadaNYa sebagai imbalan dari nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada silih berganti.


QS. Al Fathir [35] : 12

وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.

Setelah Allah SWT menyebutkan dalil-dalil atas pasti terjadinya kebangkitan dan diberikan pula oleh-Nya perumpamaan untuk hal itu dengan dihidupkan-Nya bumi yang mati setelah dituruni hujan, maka dilanjutkan dengan menyebutkan tanda-tanda bukti yang bermacam-macam atas keesaan Allah dan kebesaran kekuasaan-Nya dengan diciptakan hal-hal yang sama jenisnya namun berbeda kegunaannya. 

Contoh lain adalah air yang tawar lagi segar yang mengalir di dusun-dusun dan kota-kota di berbagai hutan, padang-padang belantara, yang dengan air itu manusia dan binatang memperolehminuman dan digunakan untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang mengandung makanan bagi manusia dan binatang. Sedang yang lain adalah air asin lagi pahit dan dilewati oleh kapal-kapal besar dan dapat dikeluarkan dari padanya mutiara dan marjan. Dan dari masing-masing air itu kita dapat memakan daging segar yang lezat bagi siapa pun yang memakannya.

Yunus, Prof. Dr. H. Mahmud. 1993. Tafsir Qur’an Karim. PT Hidakarya Agung, Jakarta.

Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Qur’an. Bandung : Mizan, 1997.

Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Tafsir al-Maraghi. Semarang : Toha Putra, 1988.

Suwiknyo, Dwi, SEI., MSI. Kompilasi Tafsir Ayat Ekonomi Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010.

Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah. Jakarta : Penerbit Lentera Hati, 2002.

Bakry, H. Oemar.1981. Tafsir Rahmat. Jakarta.

Abdurrahman ibn Nashir as Sa’diy, Tafsir al Karim al Rahman, (Al Qahirah, Dar al manar, tt.).

Al-Mahalli, Imam Jalaluddin. Tafsir Jalalain. Bandung : Sinar Baru Algensindo Offset, 1997.

Hamka, Prof. Dr. Tafsir al-Azhar. Jakarta : PT Pustaka Panjimas, 1992.

Quthb, Sayyid. Fi Dhilal al Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2000.

An-Nabhani, Taqyuddin. Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam, (an-Nizham al-Iqtishadi), alih bahasa Moh. Maghfur Wachid, cet. V. Surabaya: Risalah Gusti, 2000.

Nuri Asami, Ayat Tentang Kelautan. Lembar Karya, 2012.

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Jawaban Al-Qur'an Tentang Kelautan"

Post a Comment

Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...