Rasa Dibalik Tanda Baca



Tak bisa berharap dengan logika, tak mampu mengingkari rasa lantas, aku bertanya mengapa? Selalu menunggumu setiap malam. Meskipun aku tahu, itu hanyalah angan sebatas mimpi yang tak kan wujud terpenuhi. Ketika suara jiwa lantang berteriak menolak patah. Kesadaran membekuk cinta yang tak layak beralasan. Sedang kesetian akan terbukti dibatas penantian.

Aku hanya bisa berharap menjalarnya surga akan tersungkur begitu saja, kala berujar dalam kesendirian, sebagai tulisan ikrar tak tertafsir seindah syair doa yang selalu dipanjatkan manusia saat menjelang sholat.

Mungkin, ini terlalu mudah bagimu yang mencoba bermain dipentas pertunjukan. Dimana kita akan berperan sebagai matahari laki-laki dan bulan perempuan yang harus menyinari bumi ditempat masing-masing.

Namun.., aku yakin kau pasti mengerti. Tentang arti sebidang rasa yang akan kau lintasi di tempat ini, kemudian berlari entah kemana. Sebab aku tahu, betapa mudah retaknya sepotong hati yang pernah tersakiti. Dan itu, kulihat jelas dari tatapan manik mata yang sesungguhnya bukan milikmu.

Baiklah.., biar rasaku menjelma dibalik tanda baca dalam puisi menghias hari, walau tak mampu ingkari nurani. Kemudian bercinta dengan kebodohan sebagai karya mulia sang pencinta yang ditulis dengan sepenuh hati dan rela berpesta air mata, agar kau tetap bahagia ketika membaca rasa dibalik tanda baca.

(SB)

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Rasa Dibalik Tanda Baca"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...