Perempuan; Pantas pada Hati, Logika atau Hasrat?


Ada perempuan yang pantas pada hati, ada perempuan yang pantas pada logika, dan ada perempuan yang pantas pada hasrat. Tapi, jika perempuan dinilai dari kepantasan pada hati, kepantasan pada logika, dan kepantasan pada hasrat, maka kecantikan dan kejelekan tidak lagi menjadi nilai utama.

Pantas pada Hati

Perempuan yang pantas pada hati, sulit dijelaskan ciri-ciri perempuan yang seperti apa. Karena kepantasan pada hati sering kali terjadi diluar kesadaran dan kemampuan. Tidak jarang, ada perempuan tidak pantas pada logika bahkan juga tidak pantas pada hasrat, tapi pantas pada hati. Semisal ada yang menyatakan,

“Aku sangat mencintai dia. Entah kenapa? Padahal wajahnya tidak cantik dan tubuhnya tidak seksi. Dan juga, dia tidak cerdas dan tidak pintar. Selain itu, dia suka marah-marah, sikapnya tidak ramah, penampilannya tak enak dipandang, egois, dia memiliki banyak kebisaan buruk, dan, pokoknya dia bukan tipuku. Tapi kenapa hati ini sangat mengharapkan dia?”

Itulah hati. Keinginannya terkadang tidak bisa dipahami oleh logika dan tidak diterima oleh hasrat. Hati sudah tahu bahwa perempuan itu jelek tapi tetap saja dipuja. Hati sudah tahu bahwa perempuan itu memiliki kebiasaan buruk tapi tetap saja tidak peduli. Hati berkehendak mencintai perempuan tanpa alasan. Inilah cinta sejati.

Perempuan yang pantas pada hati akan menjadi perempuan yang sangat beruntung. Semoga semua perempuan menjadi perempuan yang pantas pada hati, agar jika hendak dimiliki benar-benar karena cinta bukan karena apa-apa.

Jika ada perempuan yang pantas pada hati, pantas pada logika dan juga pantas pada hasrat, maka dialah perempuan yang sangat beruntung. Karena perempuan itu akan membuat laki-laki yang memilikinya menjadi laki-laki paling beruntung. Dia perempuan ideal! Siapakah?!? Andakah? Atau…

Tapi yang pasti, perempuan yang memiliki akhlak yang baik dan pengetahuan yang luas, akan menjadi idaman para laki-laki.


Pantas pada logika

Perempuan yang pantas pada logika berkaitan dengan sifat dan sikapnya. Seperti sifatnya yang lembut, sikapnya yang ramah (berakhlak baik), perhatian, pengertian, cara bicaranya tidak dramatis, kata-katanya nyambung pada alur pembicaraan, penampilannya sederhana.

Logika siapakah yang merasa tidak pantas pada perempuan yang memiliki sifat dan sikap di atas?

Begitulah perempuan yang pantas pada logika. Perempuan yang pantas pada logika biasanya akan pantas pula pada hati. Sebab hati juga terdorong oleh penilaian logika. Ketika logika kagum pada perempuan karena melihat sifat dan sikapnya (meski wajahnya biasa saja atau bahkan jelek), hati pun ikut bergerak untuk memancarkan perasaan yang istimewa.

Lalu bagaimana dengan perempuan yang cerdas, pandai dan pintar, pantaskah pada logika? Belum tentu. Ada perempuan yang cerdas dan pintar, tapi sifatnya keras, sikapnya egois, dan bicaranya dramatis. Meski demikian, tetaplah menjadi perempuan cerdas dan pintar. Karena perempuan yang cerdas dan pintar bisa mengubah dirinya memiliki sifat yang lembut dan sikap yang ramah.

Lalu (juga) bagaimana perempuan yang istiqamah ibadah, pantaskah pada logika? Belum tentu juga. Karena kadang ada perempuan yang istiqamah ibadah, tapi bagi orang-orang sekitarnya tidak terkesan baik. Meski demikian, tetaplah berusaha istiqamah ibadah. Kerena dengan ibadah, sebenarnya, bisa membuat sifat dan sikap perempuan menjadi lebih baik.

Intinya begini, menjadilah perempuan yang sama-sama cerdas emosional, intlektual dan spiritual. Ketiganya ini bisa diperoleh hanya dengan belajar, belajar dan belajar.


Pantas pada Hasrat

Perempuan yang pantas pada hasrat berkaitan dengan fisik. Yang dimaksud hasrat di sini adalah nafsu. Perempuan yang seperti ini biasanya perempuan yang memiliki fisik yang jika terlihat laki-laki normal hasratnya akan tertarik. Umumnya perempuan seperti ini adalah perempuan yang berwajah cantik, berkulit putih-mulus, bertubuh seksi atau semok.

Hasrat manakah yang tidak tertarik pada perempuan yang berciri-ciri di atas?

Lalu bagaimana solusinya untuk menghindar dari ciri-ciri di atas?  Agar tidak menjadi perempuan yang hanya pantas pada hasrat. Jika menghindar dengan arti membuang fisik yang berciri di atas sepertinya mustahil. Karena, itu memang pembirian Tuhan yang diciptakan sejak lahir. Sebenarnya bisa sich. Semisal wajah yang cantik dan kulit yang putih-mulus diiris-iris, dan tubuh yang seksi atau semok di suntik penghangus lemak. Tapi itu merupakan tindakan penolakan terhadap pemberian Tuhan.

Tapi perempuan mana yang menolak kecantikan, kulit putih-mulus dan tubuh seksi atau semok? Wong itu yang diharapkan. Buktinya, banyak yang mempercantik wajah, memutih-muluskan kulitnya, dan oprasi plastik agar tubuhnya seksi atau semok.

Sebenarnya yang dimaksud menghindar di sini adalah, menghindar dengan cara menjadi perempuan yang pantas pada logika (sebagaimana penjelasan di atas), terutama dalam masalah penampilan, jangan sampai menampakkan warna kulit dan lekukan tubuh. Dewasa ini banyak perempuan yang merasa sudah menutupi aurat, karena menurut mereka aurat itu hanya warna kulit, padahal tidak demikian. Yang dimaksud menutup aurat itu adalah tidak menampakkan warna kulit dan lekukan tubuh.

Jika perempuan yang pantas pada hasrat tidak memiliki sifat dan sikap yang pantas pada logika, maka perempuan itu hanya akan menjadi idaman para hawa nafsu. Tapi jika dia memiliki sifat dan sikap yang baik ditambah lagi kecerdasan dan pengetahuan (entah pengetahuan apa saja, yang penting bisa bermanfaat), maka perempuan itu termasuk perempuan yang sangat beruntung.

Coba renungkan pernyataan di bawah ini!

“ah, aku tak peduli, perempuan itu sifatnya keras, egois, tidak pengertian, tidak perhatian, bodoh, penampilnnya mau seperti apa, yang penting dia cantik, kulitnya putih-mulus dan bodinya seksi”

Adakah perempuan yang ingin dinyatakan seperti itu?

Mungkin jika bicara tak ada yang mau. Tapi, jika dilihat dari sikap dan penampilnnya, secara tidaklangsung mengatakan mau. Buktinya, banyak perempuan yang lebih memikirkan kecantikannya, keindahan tubuhnya dan penampilannya dari pada memikirkan sifat dan sikapnya. Semisal, ketika wajahnya jerawatan, berminyak, terlihat hitam dan kusam, pasti sibuk mencari pembersih, pemutih dan penyegar wajah. Benarkan? Ayo ngaku! Hehehe.

Sementara sifat dan sikap yang buruk sering kali diabaikan, lebih-lebih keilmuan. Ini bagi prempuan yang hanya sibuk dengan kecantikan dan ke-uwah-an penampilannya. Dan ini, sekaligus bagi perempuan yang hanya memantaskan dirinya  kepada hasrat. Na’udzu billahi min dzalik.

Dalam hal cinta, perempuan yang pantas pada hasrat, sulit mendapatkan cinta yang sejati. Karena, sebagaimana pernyataan di atas, perempuan yang seperti itu rawan diminati oleh laki-laki karena kecantikannya, keindahan tubuhnya dan penampilannya. Sekali lagi, perempuan yang seperti itu hanya diminati, tidak lebih, apalagi dicintai. Jika diungkapkan begini, aku ingin memilikimu karena kecantikanmu, keindahan tubuhmu dan penampilanmu.

Berbeda dengan perempuan yang pantas pada logika. Perempuan yang seperti ini akan mendapatkan cinta meski (mungkin) belum sampai pada tingkatan cinta sejati. Kerana cinta sejati itu tanpa ada alasan apa-apa. Hal ini jarang terjadi apalagi pada tahap awal.

Cinta sejati itu butuh proses yang cukup lama. Paling tidak bagi perempuan seperti ini mendapatkan cinta bukan karena keindahan fisik dan penampilan. Dan, cinta yang didapatkan oleh perempuan seperti ini akan lebih langgeng dari pada cinta yang didapatkan oleh perempuan yang hanya pantas pada hasrat.

Pada biasanya pernyataan bagi perempuan yang pantas pada logika begini, perempuan itu memiliki akhlak yang baik, sifatnya lembut, sikapnya ramah, bicara apa adanya, kata-katanya nyambung, penampilannya sederhana.

Terlepas dari perempuan yang cantik atau jelek sekalipun, jika perempuan itu pantas pada logika pasti akan mendapatkan cinta yang tidak beralasan karena fisik. Bagi perempuan yang berwajah cantik, jagalah kecantikanmu agar tidak menjadi idola hawa nafsu.

Tutuplah dengan penampilan yang sedrhana saja, hiasilah dengan akhlak yang baik, isilah dengan ilmu. Bagi perempuan yang jelek, engkau pasti menjadi idola cinta sejati, asalkan engkau memiliki akhlak yang baik, penampilanmu yang sangat sederhana, dan keilmuan yang luas.


Penulis: Opiq Muhammad

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Perempuan; Pantas pada Hati, Logika atau Hasrat?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...