Nilai Direbut, Kejujuran Diabaikan

Foto: Ahmad Takbir Abadi
Sepanjang masa keyakinan selalu mempercayai kejujuran sebagai sesuatu yang rasional dan mengarah kepada logika yang dapat menjatuhkan realita. Kejujuran merupakan tonggak dan tiang sebuah keyakinan, karena kita tahu, tanpa keyakinan tak ada kepercayaan diri yang tumbuh berkembang pada nilai-nilai estetika dan simbolik.

Kejujuran tak pernah terlepas dari moral dan budi pekerti secara luhur maupun dilihat dari hukum-hukum yaang berlaku. Kekuatan kejujuran sangat diperhatikan dan diinginkan dalam berbagai sendi kehidupan, dalam perputarannya kejujuran diperhatikan secara jelas dalam Agama, bahkan seluruh agama yang ada di dunia sangat Simpati dan bersama berkampanye memperjuangkan kejujuran. Hal ini membuktikan bahwa kejujuran tak pernah disembunyikan untuk dilihat tapi selalu dikejar dan diperlukan dalam bermasyarakat sosial.

Pribadi saya sebagai pelajar memandang kejujuran sebagai tiang hidup dan berusaha untuk mengimplementasikan baik secara difinisi maupun ikhtiar. Sayapun merasakan bahwa kejujuran susah untuk dibuktikan bahkan orang-orang melihatnya sebagai hal yang biasa. Perkembangan zaman selalu membuat sesuatu hal bersifat tertinggal, dan membuat hal tertinggal itu dipandang sebagai suatu kesenjangan.

Contohnya saja sekarang manusia tak mengenal pendidikan bebas dari calo, nah masalah ini dulunya sangat ditentang keras oleh berbagai kalangan masyarakat, tak jarang masalah ini menghasilkan dendam dari satu pihak ke pihak lain, dasarnya hanya satu atau dua orang yang mealakukan tindakan curang ini, kurangnya pengawasan membuat pendidikan calo dinegeri kita masih saja jadi jalang pintas bagi para siswa yang hidup dengan uang yang banyak. Relistisnya hal ini hanya dipandangan masalah biasa, namun lama kelamaan masalah ini tak lagi di ungkit bahkan pendidikan pun harus menjadi korban dari hilangnya kejujuran.

Permasalahan kejujuran yang ada dinegeri kita adalah kurangnya kesadaran yang jelas dan masyarakat kita masih saja berpikir pendek artinya tidak melihat efek samping dan dampak yang terjadi ketika kita tidak berpegang teguh pada kejujuran, selalu saja sesuatu yang terkesan baik diawal menjadi perihal bahan rebuatan dalam masyarakat, hal ini menjadi bahan persaingan yang mendasar sehingga timbul rasa untuk menang dengan menghalalkan berbagai cara masyarakat selalu saja menolak jujur karena ingin mendapatkan sesuatu yang dilihatnya baik.

Kejujuran memang bisa sangat menyakitkan. Tetapi itu lebih baik daripada berbahagia karena kebohongan. Sebagai contoh kasus Korupsi, Kolusi dan Nepostisme yang melanda negeri kita. Masalah ini hanya berakar pada kurangnya kejujuran dan rasa rendah hati bagai para penjilat uang rakyat ini, dalam logika pikiran para koruptor hanya berpikir untuk dirinya hidup mengejar dua hal yang pertama harta, dan yang kedua adalah tahta.

Kekuatan harta dan tahta yang terbuka secara leluasa membuat pencuri yang berjiwa tikus ini tak ingin lambat dan menolak untuk berlama-lama melihat uang rakyat tanpa menggunakannya.

Sifat kejujuran yang ada pada jiwa koruptor sudah putus, keyakinannya sudah terbungkus dengan kekuatan harta dan tahta, sehingga dengan ini para koruptor lupa dengan Tuhan, dan aturan yang mengikatnya, kesempatan dalam kesempitan menjadi senjata untuk menambah uang dikantong rekeningnya.

Nilai di rebut kejujuran di abaikan, dari sudut pandangan sosial masyarakat kita memang mengejar nilai baik itu tahta, harta, dan sebagainya. Nilai kehidupan memang dianggap sebagai kebutuhan yang harus dimiliki oleh masyarakat. Nilai bersifat cita-cita dan tujuan, jika didefinisikan merupakan sesatu yang diperjuangkan dengan usaha yang keras untuk menghasilka hasil yang jelas.

Di dalam proses menuju hasil yang jelas ini, etos terhadap kejujuran selalu saja tidak diperhatikan, masyarakat hanya berjalan bagaikan air mengalir begitu saja walau itu bercampur dengan kebohongan.

Kebohongan hanya sesautu yang sesat tak memperlihatkan jalan yang lurus tapi mempelihatkan jalan yang berliku penuh dengan kebohongan yang lain. Kebohongan hanyalah benih dari berbagai penyimpangan perilaku khususnya pembinaan karakter masyarakat soal kesadaran dan kepedulian terhadap perilaku jujur dalam berbagai sendi kehidupan

Sebagai siswa dilingkungan saya, melihat kejujuran masih kurang untuk dibuktikan, bahkan sayapun masih kurang percaya dengan kejujuran yang berpotensi menebarkan kebaikan. Lingkungan yang dimilki seorang siswa memaksanya untuk mengikuti perkembangan yang ada dilingkungan siswa tersebut.

Contohnya saja pada saat ulangan masih saja, banyak siswa yang lebih percaya pada kekuatan kebohongan dari pada kekuatan kejujuran yang ada pada dirinya, para pelajar menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan hasil ulangan yang baik, walau itu harus dilandasi oleh berbagai kebohongan.

Nah, sekarang selain rasa kesadaran yang rendah permasalahan kita yang lainnya, yaitu kurangnya rasa percaya diri terhadap kejujuran itu sendiri. Yah, bangsa kita sudah disuarakan sebagai bangsa yang kurang rasa percaya diri, hal yang mendasari masalah ini hanyalah keyakinan terhadap kejujuran.

Jika kita memiliki masyarakat yang peduli kejujuran dan menomor dukan nilai , yakin dan percaya tingkat kriminal yang ada di negeri kita akan berkurang. Melihat kriminalitas yang ada di negara kita setiap tahunnya cenderung naik bahkan beberapa media mengungkapkan setiap 1 menit 32 detik terjadi kasus kriminalitas.

Bayangkan, kita ingin menjadi bangsa yang seperti apa? jika nilai kejujuran tidak kita tanamkan sejak dini, pengaruh lingkungan memang berat untuk ditinggalkan tetapi secara proses yang panjang dibarengi dengan ikhtiar dan doa dan dilakukan secara terbiasa membuat kejujuran akan tertanam sendiri dalam lingkungan kita.

Semua orang pasti tahu bahwa Nilai lebih diperjuangankan daripada kejujuran, tag line ini menjadi tantangan besar dalam semangat revolusi mental yang dicanangkan pemerintah saat ini. Dengan kejujuran membuat bangsa kita menjadi bangsa yang percaya diri dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap bangsanya.

Diperlukan 1000 kebohongan untuk menutupi 1 kebohongan, tapi hanya perlu sebuah kejujuran untuk mengakhirinya. Kejujuran adalah perhiasan jiwa yang lebih bercahaya dari pada berlian, dan ada 3 hal yang tak lama bersembunyi, pertama matahari, kedua bulan dan terakhir kebenaran.


Penulis: Ahmad Takbir Abadi
(Siswa SMAN 1 Maros , Alumni SMPN 1 Maros, Alumni SDN 39 Kassi Maros, TK/RA AL Manar Kassi Maros)
Dikutip dari: bonepos.com

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Nilai Direbut, Kejujuran Diabaikan"

Post a Comment

Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...