Kahlil Gibran; Nature


Di alam tidak ada kepercayaan atau ketidak-percayaan yang jahat; burung bernyayi tidak pernah asertif akan kebenaran, kebahagiaan, atau kesedihan.

Ketika aku mulai meukis dan menggambar, aku tidak mengatakan pada diri sendiri, “Lihatlah Kahlil Gibran. Di depanmu ada begitu banyak jalan menuju kesenian: Yang klasik, yang modern, yang simbolis, yang mengesankan, dan yang lainnya.

Pilihlah sendiri salah satunya”. Aku tidak berbuat seperti itu. Aku sekadar mencari penaku dan kuasku, menuangkan simbol-simbol pikiranku, perasaanku, khayalanku.

Ada yang menganggap bahwa kesenian adalah sekadar meniru alam. Tetapi alam itu terlalu besar dan terlalu tidak Nampak untuk ditiru dengan sukses. Tak ad aartis yang dapat menghasilkan kembali bahkan yang paling kecilpun dari cip[taan dan mukjizat alam yang unggul. Lagipula, apa untungnya sih meniru alam, kalua ia begitu terbuka dan begitu terjangkau bagi semua orang yang melihat dan mendengar?

Kesenian adalah memahami alam dan mengungkapkan maknanya bagi mereka-meraka yang tidak mengarti. Kesinian adalah menyampaikan jiwa sebuah pohon ketimbang menghasilkan keserupaan pohon yang berbuah.

Kesenian adalah mengungkapkan nurani lautan, bukan memproyeksikan gelombang berbuih atau air yang biru. Misi kesenian adalah membangkitkan yang tidak dikenal dari yang paling dikenal.

Sunguh malang mata yang di dalam matahari tidak melihat lebih daripada sebuah konpor untuk membuatnya tetap hangat dan sebuah obor untuk menerangi jalannya di antara rumah dengan kantor. Itu adalah mata yang buta, seandainya pun ia mampu melihat seekor lalat dalam kejauhan satu mil.

Seunguh malang telinga yang di dalam nyayian burung bul-bul tidak mendengar lebih dari pada nada-nada. Itu adalah telingah yang tuli, seandainya pun ia mampu mendengar suara semut yang menyerap di labirinnya dibawah permukaan bumi.

Alam mengulurkan tangan kepada kita dengan lengan yang menyambut, dan memanggil kita untuk menikmati keindahannya; tetapi kita takut pada keheningannya dan kita bergegas ke kota yang sesak, untuk berkerumun seperti domba yang lari dari serigala yang buas. Bagi alam semuannya hidup dan semuannya bebas. Kemudian manusia adalah impian kosong, yang lenyap bersamaan buih sungai.


Hikmat; Kahlil Gibran

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Kahlil Gibran; Nature"

Post a Comment

Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...