Epistemologi dalam Filsafat



Pengertian Epistemologi

Sebelum menyelam lebih jauh pada aliran rasionalisme, terlebih dahulu yang harus dipahami adalah "Epistemologi" dalam filsafat, karena darinyalah dilahirkan aliran rasionalisme. Epistemologi berasal dari kata Yunani, yaitu epistememe = pengetahuan dan logos = perkataan, pikiran, ilmu. Epistemologi bermaksud secara kritis mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan serta mencoba memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitasnya.

Jadi, epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Dengan bahasa yang lain, menurut Mohammad Adib, Epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata cara, teknik atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan. Dari sini dapat ditarik pengertian bahwa epistemologi membahas tentang bagaimana suatu pengetahuan atau keilmuan dapat diperoleh manusia.

Rasionalisme tidak mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman hanya dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Karenanya, aliran ini yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide, dan bukannya di dalam barang sesuatu. Jika kebenaran bermakna sebagai mempunyai ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja.

Cara Kerja Epistemologi

Cara kerja atau metode pendekatan dalam epistemologi menggambarkan bagaimana ciri khas pendekatan filosofis terhadap gejala pengetahuan. Ciri khas cara pendekatan filsafat terhadap objek kajiannya tampak dari jenis pertanyaan yang diajukan dan upaya jawaban yang diberikan. Filsafat berusaha secara kritis mencoba mengajukan pertanyaan dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum, menyeluruh dan mandasar.

Filsafat bermaksud secara kritis menggugat serta mengusik pandangan dan pendapat umum yang sudah mapan. Semua itu guna merangsang orang lain untuk berpikir lebih serius dan bertanggung jawab. Tidak asal saja menerima pandangan dan pendapat umum. Misalnya, apabila pengetahuan manusia secara umum disamakan dengan ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan diidentikkan dengan sains, maka lingkup pengetahuan manusia akan semakin dipersempit. Penyempitan paham pengetahuan seperti ini, sebagaimana terjadi dalam paham saintisme, jelas akan memasung kekayaan budaya manusia dan harus ditanggapi seara ktitis.

Dalam hal pengetahuan, ada beberapa pertanyaan filosofis mendasar yang diajukan, seperti; Apa itu pengetahuan? Apa ciri-ciri hakikinya dan mana batas-batas ruang lingkupnya? Apa beda antara pengetahuan dan kepercayaan? dan masih banyak lagi yang lainnya.

Macam-Macam Epistemologi

Berbicara tentang bagaimana macam-macam epistemologi, berarti berbincang tentang bagaimana macam-macam cara atau metode memperoleh pengetahuan, ilmu pengetahuan, ilmu atau keilmuan. Menurut Keith Lehrer, ada tiga macam metode dalam memperoleh ilmu pengetahuan, yaitu: a) dogmatic epistemology, b) critical epistemology dan c) scientific epistemology.

Pertama, dogmatic epistemology adalah pendekatan tradisional terhadap epistemologi. Dalam prespektif epistemology dogmatik, metafisika (ontologi) diasumsikan ada terlebih dahulu, baru kemudian ditambahkan epistemologi. Tokoh pendekatan/metode ini adalah Plato. Setelah realitas dasar diasumsikan ada, baru kemudian ditambahkan epistemologi untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahui realitas tersebut. Pertanyaan utama epistemologi ini adalah: Apa yang kita ketahui? Lalu bagaimana cara kita mengetahuinya?, secara singkat epistemologi dogmatik menetapkan ontologi sebelum epistemology.

Kedua, critical epistemology. Ini dikenalkan oleh Rene Descartes, yaitu dia membalik epistemology dogmatik dengan menanyakan apa yang dapa kita ketahui sebelum menjelaskannya. Pertanyakan dulu secara kritis baru kemudian diyakini. Ragukan dulu bahwa sesuatu itu ada, kalau sudah terbukti ada, baru dijelaskan. Berpikir terlebih dahulu, baru diyakini atau tidak, meragukan dahulu baru diyakini atau tidak. Metode Descartes disebut juga metode skeptis. Yakni, skeptis (ragu) bahwa kita dapat mengetahui secara langsung objek di luar diri kita tanpa melalui jiwa kita. Pertanyaan utama epistemologi jenis ini: Apa yang dapat kita ketahui?  Dapatkah kita mengetahuinya? Mungkinkah kita dapat mengetahui sesuatu di luar diri kita?. Dengan kata lain, epistemologi kritis menetapkan ontologi setelah epistemologi.

Ketiga, scientific epistemology. Pertanyaan utama epistemologi ini adalah apa yang benar-benar sudah kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinya?. Epistemologi ini tidak peduli apakah batu di depan mata kita adalah penampakan atau bukan, yang menjadi urusannya adalah bahwa ada batu di depan mata kita dan kita teliti secara sainstifik.

Aliran-Aliran Epistemologi

Dalam memperoleh pengetahuan, ada beberapa cara yang masing-masing terdapat perbedaan yang fundamental. Kemudian cara pemerolehan pengetahuan tersebut berkembang menjadi madzhab atau aliran dalam epistemologi. Dalam filsafat Barat, ada beberapa aliran yang berkembang, antara lain; empirisme, rasionalisme, positivisme dan intuisionisme.

Pertama, aliran Empirisme memandang bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman panca inderanya. Manusia tahu es itu dingin karena dia menyentuhnya, gula terasa manis karena ia mencicipinya. Tokoh aliran ini adalah John Locke (1632-1704).

Kedua, adalah aliran Rasionalisme. Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kemampuan akal menangkap objek. Tokoh yang sering dibicarakan pada aliran ini adalah Rene Descartes (1596-1650).

Ketiga, aliran Positivisme. Sejalan dengan empirisme, aliran ini menganut paham empirisme, akan tetapi ada penambahan di dalamnya, bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengatahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Tokoh aliran ini adalah Auguste Comte (1798-1857).

Keempat, adalah aliran Intuisionisme. Menurut aliran ini, tidak hanya indera saja yang terbatas, akal juga terbatas, objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah, jadi pengetahuan tentangnya tidak pernah tetap. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu. Dalam hal seperti itu, manusia tidak mengetahui keseluruhan, juga tidak mampu memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Tokohnya adalah Henri Bergson (1859-1941).


Oleh: Panji Syahid Rahman dkk. 2018.

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Epistemologi dalam Filsafat"

Post a Comment

Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...