Pembentukan Pegunungan


Suatu hipotesa dari vulkanolog Belanda, Vening Meinesz, menyatakan bahwa dalam sementara waktu di dalam substratum terjadi arus-arus melingkar, sebagai akibat dari kenaikan suhu setempat (karena radioaktivitas).

Arus-arus ini mengangkut bahan-bahan kerak bumi yang padat; di atas tempat kenaikan arus terjadi kekuatan tegangan; dimana arus menurun, terjadi daerah dengan gerakan ke bawah, dimana pelepasan batuan mengalami lipatan karena tekanan dari samping dan kemudian terjadi pemindahan.

Jika arus berenti dan keadaan seimbang lagi, terbentuklah suatu pegunungan lipatan. Anggapan lain mengatakan bahwa oleh arus-arus konveksi seperti itu dapat terangkut daratan dan benua; sebagian anggapan itu berpendapat bahwa pembentukan pegunungan merupakan gesekan bagian depan seekor ikan yang mengapung (seperti suatu gelombang haluan); untuk sebagian lagi dianggap merupakan akibat desakan daerah-daerah geosinklinal antara dua benua yang mengambang dan saling mendekati.

Segala hipotesa yang hingga kini di bicarakan, beranggapan bahwa energi yang diperlukan pada pembentukan pegunungan berasal dari proses-proses termodinamika; baik berupa pendinginan bumi secara keseluruhan, maupun proses pemanasan setempat.

kelompok teori ke-2 berusaha menjelaskan terjadinya pegunungan lipatan dari proses fisis dan kimiawi. Dalam kelompok ini termasuk pula teori undasi (teori gerak gelombang) dari Van Bemmelen. Teori itu beranggapan bahwa di berbagai permukaan dari tektonosfer terdapat suhu keseimbangan fisis-kimia yang labil.

Jika keseimbangan ini mengalami gangguan setempat (karena perubahan perbandingan tekana dan suhu), akan terjadi perubahan kimiawi (magmatisasi) disertai pertukaran zat, perubahan penting dalam kerapatan jenis dan ciri-ciri fisis lain dari zat-zat itu.

Jika keseimbangam mengalami ganguan setempat, di dalam kerak timbul perpindahan massa yang pada permukaan muncul gerakan-gerakan vertikal (tektogenese primer); terjadilah suatu relief berbentuk pegunungan.

Van Bemmelen beranggapan bahwa perkembangan selanjutnya menjadi pegunungan lipatan (bentuk lipatan dan pahatan, pergeseran, limpahan ke atas lapisan lain) diakibatkan oleh peluncuran massa batuan ke samping, karena bekerjanya gaya berat (tektogenese sekunder); suatu gekala yang dapat muncul di setia kedalaman pada kerak bumi.

Gempa bumi, baik yang normal, menengah atau dalam, selalu akan terjadi. Perubahan di suatu daerah juga akan menggangu keseimbangan daerah-daerah sekitarnya. Disitu akan berulang proses yang sama; pembentukan pegunungan terus berlanjut keluar sebagai suatu gelombang (geoundasi).

Sementara pada teori-teori lain, gempa bumi dan gejala gunung api dianggap sebagai hasil sampingan dari proses tektogenese, pada hipotesa ini, terutama proses magmatisme sangat esensial dan memegang peranan penting. Dengan demikian teori ini memiliki sifat yang universal dan abadi.

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Pembentukan Pegunungan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...