Pemikiran Rene Descartes (1596-1650)


Kelahiran dan Pendidikan

Descartes di samping tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak filsafat, terutama karena dia dalam filsafat-filsafat sungguh-sungguh diusahakan adanya metode serta penyelidikan yang mendalam. Ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran.

Ia yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercayai adalah akal. Ia tidak puas dengan filsafat scholastik karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada kepastian. Adapun sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti. Descartes merasa benar-benar ketegangan dan ketidak pastian merajalera ketika itu dalam kalangan filsafat.

Scholastic tak dapat memberi keterangan yang memuaskan kepada ilmu dan filsafat baru yang dimajukan ketika itu kerapkali bertentangan satu sama lain. Rene Descartes adalah tokoh filsafat abad modern, bahkan dialah pendiri dan pelopor utamanya.

Rene Descartes (Renatus cartesius) adalah putra keempat Joachim Descartes, seorang anggota parlemen kota britari, propinsi renatus di prancis. Kakeknya, piere Descartes, adalah seorang dokter. Neneknya juga berlatar belakang kedokteran, dilahirkan pada tanggal 31 Maret 1596 di La Haye (sekarang disebut La Haye Descartes), propinsi Teuraine. Descartes kecil yang mendapat nama baptis Rene, tumbuh sebagai anak yang menampakan bakatnya dalam bidang filsafat, sehingga ayahnya pun memanggilnya dengan julukan Si Filsuf Cilik.

Pendidikan pertamanya diperoleh dari sekolah Yesuit di La Fleche dari tahun 1604-1612. Disinilah ia memperoleh pengetahuan dasar tentang karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasa Prancis, music dan acting, logika aristoteles dan Etika Nichomacus, fisika, matematika, astronomi dan ajaran metafisika dari filsafat Thomas Aquinas.


Metode Kesangsian dan “Cogito Ergo Sum”

Untuk memperoleh titik kebenaran pengetahuan, Descartes mulai dengan sebuah kesangsian atas segala sesuatu. Menurut Dascartes, sekurang-kurangnya "aku yang menyangsikan" bukanlah hasil tipuan. Semakin kita dapat menyangsikan segala sesuatu, entah kita sungguh ditipu atau ternyata tidak, termasuk menyangsikan bahwa kita tidak dapat menyangsikan, kita semakin mengada (exist). Justru kesangsianlah yang membuktikan kepada diri kita bahwa kita ini nyata.

Selama kita ini sangsi, kita akan merasa semakin pasti bahwa kita nyata-nyata ada. Jadi, meski dalam tipuan yang lihai, kepastian bahwa "aku yang menyangsikan" itu ada tidak bisa dibantah. Menyangsikan adalah berpikir, maka kepastian akan eksistensiku dicapai dengan berpikir. Descartes kemudian mengatakan Je pense donce je suis atau cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada).

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Pemikiran Rene Descartes (1596-1650)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...