Puisi Terakhir

Foto: Boombastis
Pagi itu meski hampir siang, matahari belum panas benar. Awan mendung masih enggan melepaskan pelukannya pada tubuh matahari. Hampir dua tahun sudah negeri ini di haru-biru krisis ekonomi. Babak belur. Belum lagi ada tanda-tanda perbaikan. Entah siapa yang salah. Siapa salah dan siapa lebih benar, di negeri ini seolah menjadi takdir keempat setelah lahir, jodoh dan mati.

Kini setiap hari nyaris selalu ada saja demonstrasi. Pamong praja yang konon menjadi pamong rakyat didemo oleh rakyatnya. Saling hujat, saling umpat. Siapa menghujat siapa. Siapa mengumpat Siapa. Tak jelas juga.

Seorang pemuda, siang itu tampak menyusuri trotoar dan membagi-bagikan bunga mawar. Selembar kertas tipis penuh tulisan untuk siapa saja yang mau menerika mawar. "Mohon maaf, kenyarnanan anda terganggu. Kami mahasiswa sedang berjuang menegakkan demokrasi di negeri ini. Terima kasih." Demikian bunyi tulisan yang memenuhi kertas tipis yang dibagikan sebagai selebaran.

Nama pemuda itu adalah Gilang. Ia pergi berlalu dari sebuah halte setelah menyakinkan diri tak satu pun orang yang terlewat untuk dibagikan sekuntum mawar dan secarik kertas pengumuman. Ada juga seorang polwan yang menerima bunga dan selebaran, lalu dengan halus meremasnya di belakang punggung. Giang tersenyum tipis. Tipis sekali di ujung bibirnya, lalu pergi.

Ribuan. Bahkan mungkin puluhan ribu mahasiswa sejak siang membanjiri jalanan. Bergelombang. Berjalan bergandengan menuju gedung terpat wakil rakyat bersidang.

"Majuuu tak gentarrr, membeelaaa yang benar...." Mereka bernyanyi mengetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Bagaimana tidak, bak paduan suara ribuan lebah. Di sepanjang jalan yang dilalui orang semua berekspresi. Ada yang spontan menulis dukungan di sebuah karton bekas bungkus rokok. Seorang karyawati membagi-bagikan permen yang buru-buru ia beli di sebuah kios kecil. Seorang ibu membagi-bagikan bungkusan air dalam plastik dan sejumlah roti.

"Majulah, majulah. Kami di belakang kalian." Seorang ibu menyalami dan mencium kening seorang mahasiswa yang menghampirinya untuk mengambil air bungkusan. Ibu itu menangis. Sang mahasiswa membalas ciuman ibu itu dengan mencium punggung telapak tangan sang ibu yang tak pernah ia kenal. Mahasiswa itu menangis pula dan meninggalkan titik air matanya di punggung Ibu yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

"Selamat berjuang!"
"Selamat berjuang!"
Mereka yang di pinggir jalan melambaikan tangan. Sang mahasiswa mengusap keningnya. Sebentuk rasa bekas ciuman tertinggal di sana. Gilang berjalan di depan. Memakai jaket almamater yang diikat pita hitam di pangkal lengan sebelah kanan. Kali ini mahasiswa tak bisa meneruskan lagi perjalanan. Sebaris pasukan bertameng menghadang jalan. Gilang berdiri menantang. Dengan lantang ia meradang lewat TOA yang seolah hendak pecah menampung suaranya.

"Saudara-saudara, kita, adalah rakyat yang menuntut tegaknya keadilan!"

"Yaaa, yaaa!" gemuruh suara menyambut Gilang.

"Relakah kalian, jika bumi ini dijarah dan hanya hutang yang ditinggalkan untuk kita, untuk masa depan?!" Suara Gilang serak berapi-api.

"Tidak!!!" Dan sejurus aba-aba diberikan. Barisan mahasiswa maju, barisan tentara merapat dan menegakkan tamengnya.

"Bentuk presidium, ganti semua pembesar, adili koruptor dan tolak semua kezaliman!!" Semua mahasiswa berwajah memancarkan semangat seolah tak kenal mati, dan ketakutan menjadi urusan yang tak pernah terpikirkan.

"Gusur, gusur turunkan!!" Lautan mahasiswa bernyanyi. Mereka terus maju, bergelombang, berteriak dan saling bakar semangat. Ring empat telah lewat. Di depan telah menghadang lebih banyak pasukan. Gilang masih di depan, berteriak-teriak bangkitkan semangat. Tiga orang dengan dua kardus penuh berisi bungkusan air membelah barisan. Membagi-bagiakan air. Setelah itu terdengar teriakan....

"Rapatkan barisan!" Dan lautan manusia itupun serentak bergandengan tangan.

"Saudara, kita adalah rakyat, dan mahasiswa yang tak ingin negara ini hancur berkeping. Karena itu kalau kita tak bisa membentuk presidium, menggusur dan menurunkan semua yang harus turun, kita sama saja membiarkan negara ini hancur!" Gilang berdiri di antara dua barisan. Terus berteriak lewat TOA.

Seorang pasukan berpangkat letnan menye-ruak barisan, melangkah menghampiri Gilang. Sang Letnan tersenyum. Gilang menatap dingin dan penuh dendam. Tiga orang mahasiswa menghampiri Gilang.

"Biarkan kami masuk!" bentak seorang teman Gilang.

"Kalian adik-adik kami juga, jangan..," kata Sang Letnan.

"Bagaimanapun keadilan harus ditegakkan!" Gilang memotong garang.

"Jangan paksa kami berhadapan dengan kalian. Pulanglah. Bubarkan!" Kata Sang Letnan dengan senyuman. Tiba-tiba sebuah botol Aqua melayang jatuh persis di atas kepala Sang Letnan. Mahasiswa maju. Aparat siaga. Ketegangan menjelma sengketa. Semua panik. Hiruk pikuk. Tentara menarik pentungan, menembakkan gas air mata dan mengejar mahasiswa. Mahasiswa melawan. Batu-batu melayang. Suara serentetan letusan. Pentungan beradu kepala. Peluru menerjang dan mengkaparkan. Tangan-tangan telanjang melemparkan kembali gas air mata. Kepala-kepala tanpa helm baja sasaran meriah untuh dirajah.

Darah menetes. Ketakutan menjelma desis dan lintang pukang. Pekik geram. Erang kesakitan memenuhi senja menjelang malam. Malam itu, jalanan berubah menjadi ladang batu. Udara masih beraroma mesiu dan gar air mata. Seorang mahasiswa menangis tersedu di bawah temaram lampu. Tubuhnya menggigil ketakutan. Seorang lagi sedang bersandar pada tiang panjang jembatan layang. Tangan kirinya lunglai menggenggam pengeras suara yang sejak siang digenggam Gilang. Ahhh, Gilang... di mana Gilang?

"Rapatkan barisan, pukul sebelas malam kita maju berbarengan." Pesan dalam handphone-nya terbaca dalam remang.

"Mana Gilang? Mana Gilang?"

"Siapkan barisan. Jam sebelas kita maju ber barengan." Suara-suara saling meyakinkan.

Dalam sekejap ratusan mahasiswa berkerumunan menjadi ribuan. Maju dan bernyanyi di tengah malam saat udara dipenuhi bau mesiu dan bakaran ban.

"Pulang, dan kosongkan jalanan atau kami bertindak tegas pada kalian!" Pengeras suara dari panser tentara membentakkan perintah. Jalanan basah oleh sisa-sisa air dari blanwir. Angin semilir Dingin.

Pada saat yang sama, mungkin sebagian penduduk kota sedang membuai diri dalam mimpi. Sebagian lain mungkin masih baru memasuki kafe untuk bersenang. Tapi pemandangan di bawah jembatan ini begitu mencekam.


***

Hari itu masih pagi sekali. Gilang mahasiswa semester tujuh sebuah perguruan tinggi negeri selepas salat subuh bersimpuh dan mencium lutut kaki ibunya. Ia pamit pergi untuk demonstrasi siang nanti.

"Ibu...." Gilang menatap manik hitam milik ibunya. Tatapan itu mewakili seribu kata yang ia ingin ucapkan.

"Anakku, kekerasan itu tak pernah menyelesaikan masalah dengan baik." Sang Ibu berbicara dengan kebijakan berabad umurnya.

"Tapi Bu, kadang keadilan perlu ditegakkan dengan keras." Gilang menunduk.

"Itu bukan keadilan, jika kau tegakkan dengan kekerasan. Itu nafsu."

"Bukan Bu, itu harga diri yang hilang."

"Jangan kau gusar. Timbang dulu, banyak mana manfaat dan korban."

"Ibu maafkan. Kunanti restumu. Doakan." Gilang menyambar tangan ibunya dan menciumnya.

"Pergilah, doaku pada Tuhan selalu padamu," Sang Ibu menahan tangis.

Selang sehari sebuah ambulans berhenti di muka rumah Gilang. Sang Ibu sudah tahu dan tak berkata-kata. Tanpa air mata ia menanti di pintu. Ya, seakan-akan sudah tahu semuanya. Seorang mahasiswa turun dari mobil, menghampiri ibu Gilang, mencium tangannya dan mengangis sejadi-jadinya. Almamaternya berdarah, dan ibu Gilang masih diam tak berkata-kata. Jenazah diturunkan dan sudah terbungkus kain kafan.

Dengan tenang, sangat tenang bahkan, satu satu ikatan jenazah dibuka oleh ibu Gilang. Mayat itu dingin dan biru. Dada kirinya berlubang. Ujung bibir masih menyimpan sebuah senyum yang belum sempat dilemparkan. Dan Sang Ibu membalasnya dengan senyuman. Senyum paling hambar yang pernah ada di muka bumi ini.

Malam seusai Gilang pamitan Sang Ibu memasuki kamar anaknya seorang itu dan menemukan secarik kertas dengan puisi di atasnya.

Jika aku mati nanti
Aku minta
Tak usah kau tuliskan nama di batu nisan
Tak usah pula kau membuat sebaris kenangan
Kematianku hanya sebuah peringatan kecil Tembok tiran makin tinggi
Biarlah debu dan malaikat maut saja menemani
Selebihnya aku tak peduli
Kawan berjanjilah padaku satu hal, hancurkan tiran.



12 November 1998
Gilang

Dikutip dari: Lingkaran Pena Kreativa. Depok, 2004.

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Puisi Terakhir"

Post a Comment

Loading...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...