Melihat NU dan PMII adalah Melihat Gus Dur : Humor dan Kritikan


Kebanyakan anak muda NU yang juga aktif di PMII, jika ditanyai perihal siapa Gus Dur, kebanyakan dari itu juga punya jawaban yang sama. Ia merupakan idola dan panutan, lebih-lebih jika ada yang menghina atau merendahkan beliau, kebanyakan dari mereka tadi pasti tampil paling depan untuk membela.

Sayapun demikian, meskipun sangat terlambat Aguk Irawan MN, memperkenalkan saya dengan Gus Dur, tidak secara harfiah kami berkenalan, tatap muka, menyalaminya, minum kopi dan mendengarkan petuah langsung sambil sendiko dawuh apa katanya.

Dua ribu delapan belas tepatnya, Aguk Irawan MN bercerita tentang gus dur dari Peci Miring, dengan kopi yang masih mengepulkan asap, bauh tanah, dan embun yang belum kering dari daun. Kisah Gus Dur dari buku ini selalu dapat mendahului mentari, rutinitas pagi yang membius saya kurang lebih sebulan.

Arusnya linear, menarik dan runut, membuat saya jatuh cinta. Dari mulai kelahiran Abdurrahman Ad-Dakhil di denanyar, 4 Syaban (bulan ke-8 ) 1359 H, atau 7 september 1940, tetapi waktu masuk SD ditulis 4 Agustus 1940, sampai Gus Dur berkeliling eropa, dengan diselingi berbagai joke humor dari Gus Dur hingga pembaca merasa tidak bosan untuk membaca sampai akhir halaman. Dari sinilah saya mulai menyukai pikirannya.

humor dan Gus Dur, adalah dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Memisahkan Gus Dur dan humor ibarat mencoba memisahkan kopi dan pahit atau rasa manis dari gula, sebab Gus Dur selalu identik dengan humor, hakikat pemikiran Gus Dur adalah humor. Ia piawai dan licin menciptakan sekaligus menyampaikan humor.

Putrinya pun mengakui itu, Inayah Wahid pernah bilang "Gus Dur itu sesungguhnya adalah komedian yang punya profesi sampingan sebagai presiden, kiai, budayawan, dan penggerak sosial." Belum zaman stand up komedi jadi tren, Gus Dur sudah melakukannya dengan ceramah-ceramah sampai pidato-pidato saat menjadi presiden di negri ini.

Bisa dibilang, diantara presiden kita yang punya banyak gelar doktor honoris causa, nampaknya hanya Gus Dur yang layak mendapatkan gelar doktor humoris causa.

Humor-humor satire politiknya selalu bisa membuat orang tertawa sekaligus geleng kepala, salah satu sindiran humornya kepada orde baru yang bikin saya mesem-mesem sendri ketika beliau bilang "Kalau anak orang kaya ulang tahun atau menikah dibelikan TV. Kalau anak penguasa ulang tahun atau menikah dibelikan stasiun TV,” ujarnya.

Publik pasti tahu setelahnya, habis TVRI, TV swasta RCTI dan TPI menyusul dimiliki keluarga cendana.

Atau usai reformasi sembilan lapan, ketika banyak partai bermunculan, termasuk partai dari kalangan Nahdiyin, kita sebut saja PKB, merupakan satu dari sekian partai yang mengasosiasikan diri sebagai partainya NU.

Namun, apa yang Gus Dur katakan ? Dengan cerdas dan humor ia bilang “NU itu seperti induk ayam. Dari pantatnya keluar telur dan juga tai. Nah, PKB adalah telur yang lain tai ayamnya….”

Atau lelucon Gus Dur di bawah ini. Pada saat kampanye pemilu era Orde Baru seorang pejabat berpidato di depan ribuan massa.

“Saudara-saudara siapa yang membangun jalan dan jembatan?” tanya pejabat itu.

“Golkaaar,” jawab massa.

“Siapa yang membangun sekolah dan pasar?” tanya pejabat lagi.

“Golkaaar,” jawaban massa menggema.

“Begitu kok dibilang korupsi. Siapa yang korupsi?” gerutu pejabat itu lirih.

Lagi-lagi massa menjawab, “Golkaaaar.”

Mengutip beliau dalam buku mati ketawa cara rusia, pada pengantarnya. Humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Humor adalah sublimasi dari sebuah kearifan masyarakat untuk melewati kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan tanpa patahnya semangat untuk hidup.

Dalam komedi yang baik, kemampuan untuk menertawakan diri adalah keahlian tingkat tinggi, namun Gus Dur mampu melakukannya, saya yakin jika beliau yang melakukan pasti punya pesan dan makna. menertawakan diri sendiri justru jadi petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Melibatkan diri kita sebagai bagian dari yang dikritik merupakan teknik komedi politik yang paripurna.

Seperti contoh kisah Gus Mus, Amang Rahman, dan Zamawi Imron yang mengadakan pameran lukisan. Mereka mengundang Gus Dur membuka pameran lukisan.

Dalam sambutannya, Gus Dur berkata, “Sudah tahu orang tidak bisa melihat, kok disuruh membuka pameran lukisan….”

Humor lain yang menertawakan diri sendiri seperti pernah diceritakan Gus Dur berikut ini.

“Pak Harto dulu presiden new order. Pak Habibie, presiden in order, boleh juga out of order. Dan Gus Dur sendiri?”

“Saya presiden no order,” katanya.

Atau saat banyak tuntutan mundur sebagai Presiden, dengan enteng Gus Dur menjawab:

“Sampeyan ini bagaimana, wong saya ini maju saja susah, harus dituntun, kok disuruh mundur.”

Itulah beliau memposisikan diri, tidak anti kritik, pun saat mengkritik tidak mau memisahkan diri dari objek kritikan. Mengkritik dan merefleksikan kritikan tersebut juga pada dirinya "menertawakan diri sendiri." Warisan pemikiran Gus Dur yang luar biasa, harusnya kader muda NU yang menggebu-gebu di PMII dapat memahaminya.

menurut Gus Dur, lelucon bagus harus memiliki unsur-unsur “humor yang mengena”. Unsur kejutan pada akhir cerita dan Juga sindiran halus, yang mengajukan kritik atas hal-hal salah dalam kehidupan, tetapi tanpa rasa kemarahan atau kepahitan hati. Jangan lupa juga unsur rasionalitas dalam cerita dan unsur kearifan dalam penyelesaian atau semacam solusi.

"Gus, saya kangen banyolanmu yang cerdas dan berisi"

Kecerdasannya dan lelucun yang berisi ini mungkin bisa dipahami, karena pada saat santri-santri NU biasanya masih tenggelam dengan tafsir, hadis, dan belajar kitab-kitab kuning lainnya, Gus Dur sudah membaca Das Kapital-nya Karl Marx, What is to be Done-nya Lenin, dan Prison Notebook-nya Gramsci.

Ketika santri-santri lain kebanyakan hanya mengenal rebana dan kasidahan, Gus Dur sudah khusyuk dalam kemerduan suara Ummi Kultsum dan kemegahan karya Bethoven dan Bach, serta entakan Janis Joplin lewat lagunya Summertime dan Me and Bobby MeGee

Gus Dur memang sosok idola, sebagaimana pengidola yang menaruh harapan pada idolanya, ia harus meiliki pemikiran yang cemerlang, tapi Gus melampaui itu. Ia adalah pemikir yang melampaui zaman.

Gus Dur adalah buku yang terbuka. Yang senantiasa siap kita baca, kita undur, dan kita diskusikan.

Gus Dur sangat menantang untuk dibaca Karena Gus Dur tidak perlu arus, juga tidak menentang arus, tetapi Gus Dur menciptakan arus yang menantang, memahami, yang tidak hanya berhenti pada saat mengucapkan yang bombastis, tetapi juga berhasil diciptakan sesuai kebutuhan tindakan, dan amaliyah.

Gus Dur meninggalkan buah pikiran yang cerdas dalam bentuk humor, bagi saya, itu penting untuk NU dan PMII, karena melihat NU dan PMII adalah melihat Gus Dur.


Penulis: Wahyu Alfy

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Melihat NU dan PMII adalah Melihat Gus Dur : Humor dan Kritikan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...