Kisah Atlantis Menurut Plato



Timaeus dan Critias merupakan karya Plato yang ditulis pada tahun 360 SM yang memuat kisah Atlantis. Benua Atlantis banyak diceritakan dalam Critias, walaupun Critias tidak pernah selesai pembuatannya. Alasan pembuatannya tidak diselesaikan tidak ada yang tahu. Ada ahli sejarah yang mengemukakan bahwa terdapat lanjutan setelah Critias. Karya ketiganya akan dinamakan Hermocrates. Cerita Timaeus berintikan asal usul dunia dan juga manusia, Critias membicarakan peradaban Athena Kuno dan keberhasilannya menahan serangan tentara Benua Atlantis, sedangkan Hermocrates diasumsikan akan bercerita tentang peradaban Helenik dan strategi perangnya melawan Bangsa Barbar.

Tokoh utama dalam kedua karya Plato ada empat orang, yakni Timaeus, Critias, Socrates dan Hermocrates. Namun, Atlantis hanya disebut-sebut oleh tokoh yang bernama Critias. Plato menggunakan dialog Socrates dalam menceritakan isi karyanya. Dialog Socrates sendiri merupakan genre sastra prosa. Gaya ini berkembang di Yunani Kuno. Waktunya berkisar pada peralihan abad ke-4 SM. Hingga kini gaya genre ini masih dilestarikan dalam bentuk naratif dan juga dramatis. Penganut gaya ini selain Plato adalah Aeschines dari Sphettos, Antisthenes, Phaedo dari Elis, Simon si Tukang Sepatu, Euclides dari Megara, Tissaphernes, Theocritus, Xenophon, dan Aristoteles.


Timaeus

Isi Timaeus menceritakan pembukaan, catatan pembuatan, peradaban kuno dan juga struktur alam semesta. Bab pembukaan menceritakan tentang perenungan Socrates. Ia merenungkan mengenai peradaban yang sempurna. Peradaban yang sempurna ini ada pada karya Plato berjudul Republic. Perenungan yang dilakukan bersama tamunya ini membawa Socrates kepada ingatan mengenai contoh peradaban yang dimaksud.

Pada Timaeus, diceritakan mengenai pengantar Atlantis. Atlantis diceritakan merupakan sebuah pulau yang besar yang disekelilingnya adalah samudera. Dari pulau besar itu bisa ke pulau-pulau lainnya di sekitar Selat Mainstay Haigelisi. Atlantis hilang dalam semalam ketika akan berperang dengan Athena. Benua ini hilang karena gempa bumi dan juga banjir. Benua berperadaban maju ini, hilang tenggelam ke dasar laut.


Critias

Contoh peradaban sempurna yang diceritakan dalam Critias, banyak ahli sejarah yang menduga, adalah Athena. Deskripsi Atlantis diceritakan lebih banyak di Critias. Athena kuno dan Atlantis ceritanya bersumber dari catatan Critias, sang tokoh. Catatan mengenai Athena dan Atlantis ini berhaluan dengan informasi Solon yang bersumber dari Mesir. Informasi Solon ini identifikasinya dipertanyakan.

Catatan Critias menceritakan kekuasaan Dewa Helenik. Poseidon yang merupakan salah satu Dewa Helenik, berkuasa atas pulau besar yang dinamakan Atlantis. Pulau milik Poseidon ini berukuran lebih besar dari Asia Kecil yang disatukan dan juga Libya Kuno. Pulau ini menjadi sejumlah lumpur ketika tenggelam. Lumpur Atlantis tidak dapat diseberangi. Akibatnya perjalanan antar samudera tidak dapat dilakukan.

Atlantis diceritakan oleh Bangsa Mesir juga. Mereka mendeskripsikan benua ini sebagai tempat yang kebanyakan wilayahnya terdiri atas pegunungan dan juga pantai pada bagian utara, sedangkan pada bagian selatannya terdiri atas padang rumput. Benuanya terbentang sebanyak 600 km, dengan bagian tengah memiliki bentangan sepanjang 400 km.

Terdapat wanita asli asal Atlantis yang diperistri oleh Poseidon. Nama wanita yang dimaksud adalah Cleito yang merupakan putri dari pasangan suami istri Leucippe dan Evenor. Sang ayah yang bernama Evenor merupakan anak keturunan raja yang menguasai Benua Atlantis berdasarkan hukum manusia. Ia memperistri seorang wanita bernama Leucippe. Kemudian, keduanya tinggal di bagian tengah Atlantis. Tidak lama setelah itu, Leucippe melahirkan putrinya yang bernama Cleito. Keduanya meninggal ketika Cleito beranjak dewasa.

Dewa Poseidon, yang merupakan sang penguasa benua Atlantis sesungguhnya, melihat Cleito di pulau miliknya. Poseidon jatuh cinta padanya. Dari pasangan Dewa Poseidon dan Cleito lahirlah beberapa anak laki-laki. Jumlahnya lima pasang anak laki-laki kembar. Akhirnya Atlantis dibagi menjadi 10 wilayah agar masing-masing anak punya kekuasaan atas tanah Atlantis. Anak tertua dari pasangan ini, Atlas, menjadi raja pertama Atlantis. Adik-adiknya menjadi gubernur yang berada di bawahnya. Benua ini dinamakan Atlantis untuk menghormati Atlas. Atlantis sendiri memiliki arti Pulau Atlas.

Kediaman Poseidon di Atlantis berada di istana yang berasal dari gunung yang diukirnya. Ia memberi parit bundar di sekitarnya yang lebarnya meningkat dengan besaran yang bervariasi. Bangsa Atlantis yang merupakan keturunannya mulai membangun jembatan setelah peradabannya terbentuk. Jembatan itu menghubungkan pulau-pulau yang berada di sekitar Atlantis melalui pegunungan yang ada di sebelah utara.

Bersamaan dengan jembatan dibangun pula kanal yang mengarah ke laut, dramaga, dan juga gua yang menuju cincin batu pegunungan. Gua ini berfungsi menghubungkan kapal ke dalam kota yang ada di sekitar pegunungan di utara. Dramaga Bangsa Atlantis dibuat dengan materi batu yang berbentuk tembok parit.

Jalan masuk ke kota Atlantis dipenuhi bangunan gerbang dan juga menara. Kota di Atlantis dikelilingi oleh tembok. Tembok kota berasal dari bebatuan hitam, merah, dan juga putih. Bebatuan tersebut dilapisi lagi dengan logam, seperti kuningan, orichalcum, dan juga timah.

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Kisah Atlantis Menurut Plato"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...