Ontologi Kematian


Kematian adalah akhir dari kehidupan atau ketiadaan nyawa dalam biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara biologis, baik karena penyebab alami seperti penyakit atau karena penyebab tidak alami seperti kecelakaan.

Meski semua manusia meyakini bahwa kematian pasti datangnya dan merupakan bagian yang integral dalam kehidupan manusia. Bagi sejumlah orang, seringkali kematian justru menjelma sebagai hal yang ingin diingkari dan dilenyapkan dari kehidupannya. Manusia kerapkali malas untuk berpikir tentang kematian secara serius. Ada rasa ketakutan yang kadang berlebihan dalam membincangnya, apalagi membahas dan menghadapinya. Karena itu, tidak banyak filsuf yang mengupas secara panjang lebar tentang hal ini. Berikut akan dikemukakan sejumlah pemikiran para tokoh yang mencoba mendefiniskan dan memaknai kematian.

1. Epikuros (341-270 SM)
Epikuros seorang filsuf yang berasal dari Pulau Samos menolak konsepsi bahwa bahwa kematian merupakan puncak penderitaan atau rasa sakit, dan bahwa jiwa tetap hidup untuk merasakan sakit atau siksaan yang hebat itu setelah kematian. Baginya, kematian merupakan hilangnya kesadaran. Sejak kesadaran itu hilang terenggut maut, hilang pula seluruh rasa takut yang dialami sebelum kematian. Kematian tidak ubahnya dengan tidur, maka tidak layak untuk ditakutkan.

Pemikiran Epikorus ini berdasarkan pada atomisme demokritos yang memandang segala-galanya terdiri dari atom-atom yang senantiasa bergerak dan secara kebetulan bertubrukan antara satu dengan lainnya. Implikasi dari pemikiran demokritos ini, Epikorus menolak kekekalan jiwa, karena jiwa hanyalah suatu organisasi khusus dari atom-atom materiil, maka tidak ada alas an apapun yang bisa membenarkan bahwa jiwa dapat hidup terus setelah kehancuran badan yang dijiwainya.

Tidak sedikit pemikir yang menolak kebenaran pendapat Epikorus tentang jiwa dan keabadian. Filsuf eksistensialis Spanyol yang bernama Miguel de Unamuno, misalnya, menilai bahwa Epikuros keliru di dalam menganalisis mengenai sebab ketakutan akan kematian. Bukan ketakutan akan penderitaan menjadi faktor determinan penyebab manusia takut mati, tetapi justru dikarenakan oleh ketakutan akan hilangnya kesadaran total untuk selamanya. Dengan begitu, bagi para eksistensialis, kematian identik dengan ketiadaan dan hilangnya eksistensi kedirian manusia.


2. Stoisisme
Seneca (2-65 M) merupakan salah satu dari dua orang Roma yang terkenal sebagai pengikut mazhab Stoa yang pemikiran filsafatnya bertumpu pada mutlaknya hukum alam dan supaya manusia dengan penuh kesadaran menaklukkan dirinya pada hukum-hukum alam tersebut. Para stoisis ini sama sekali tidak memperdulikan kematian dan malapetaka lain, karena itu untuk mengatasi ketakutan akan kematian kita harus memikirkannya terus menerus. Baginya yang paling penting ialah bahwa didalam memikirkan kematian itu, manusia harus menggunakan cara yang tepat, yakni agar tidak pernah melupakan bahwa diri kita hanyalah bagian dari alam dan harus menerima realitas itu sesuai dengan peranan yang diberikan kepada kita.

Pendapat ini banyak ditolak, terutama bagi para pemeluk agama yang percaya akan peranan Tuhan dalam penyelenggaraan semesta alam ini. Meski begitu, pemikiran para stoics tentang keharusan manusia untuk tidak berhenti memikirkan kematian patut dipertimbangkan oleh banyak orang beragama di abad global ini. Sebab, bukankah sejumlah (kitab suci) agama juga selalu mengajarkan agar kita selalu ingat akan kematian supaya kita menghargai kehidupan dan memiliki kesiapan dalam menghadapinya.


3. Spinoza
Baruch De Spinoza (1632-1677) pemikir Yahudi yang lahir di Amsterdam mengatakan bahwa Seorang yang merdeka tidak memikirkan sesuatu yang kurang dari kematian, dan kebijaksanaannya tidaklah terletak di dalam permenungannya atas kematian tetapi di dalam permenungannya atas kehidupan.

Pendapat Spinoza ini sering kali dibuat dasar bahwa pengalihan pusat perhatian atas kematian kepada kehidupan merupakan cara ampuh menghilangkan ketakutan atas kematian. Tetapi mengalihkan perhatian dari rasa takut tidaklah mudah, sebab seringkali perasaan itu datangnya spontan yang tidak cukup diatasi hanya dengan keputusan sadar atau dengan tindakan yang didasarkan pada kehendak.

Ketakutan akan kematian pada diri sendiri juga banyak dipengaruhi oleh kengerian menyaksikan kematian orang lain. Bayang kematian seringkali menghantui begitu saja tanpa bisa ditolak oleh manusia, sebab seperti Voltaire ungkapkan bahwa manusia merupkan satu-satunya species di muka bumi yang meyakini bahwa dirinya pasti mati dan mengetahuinya berdasarkan pengalaman kematian yang menimpa manusia ataupun makhluk hidup lain. Freud, Goethe, Russell juga memiliki asumsi yang tidak jauh berbeda bahwa kebanyakan orang tidak sanggup memikirkan kebinasaan dan ketiadaan diri (tubuh dan jiwa)nya sendiri. Kematian tidak saja merenggut kesadaran, tetapi juga menghilangkan seluruh makna yang disandangkan pada manusia.

Achmadi L.A., 1995. Filsafat Umum, Jakarta, Raja Grafindopersada, 58 hal.

Bertens K., 1985. Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 15 hal.

Hadi P.H., 1996. Jati Diri Manusia Berdasar Filsafat Organisme Whitehead, Yogjakarta, Kanisius, 165 hal.

Berlangganan update artikel terbaru via email GRATIS!

Belum ada Komentar untuk "Ontologi Kematian"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...